Penikmat novel fantasi,
semoga suka dengan cerita ini!.
LEMBAH TAK
BERPENGHUNI
Mereka saling bertatapan. Meyakinkan satu sama lain.
Bersamaan mereka menoleh pada dinding bebatuan yang ada di samping mereka.
Berputar badan, kini mereka berhadapan dengan dinding bebatuan itu. Perlahan namun pasti, serentak mereka mengangkat jari mereka yang terluka. Menyentuh dinding bebatuan itu dengan jari mereka. Dalam sekejap mata mereka pun menghilang, masuk menembus dinding bebatuan itu.
Ketika itu mereka tak dapat melihat apapun. Seluruhnya
gelap. Bahkan mereka tak dapat melihat satu sama lain. Angin berhembus kencang.
Berputar – putar mereka bagaikan di dalam lorong waktu tiga dimensi. Efek itu
hanya terjadi dalam waktu singkat. Beberapa menit kemudian ketika mereka
membuka mata, di hadapan mereka telah terbentang hamparan bukit hijau dan
pepohonan. Di setiap sudut teman – teman mereka berdiri dan duduk menunggu
kedatangan mereka.
“ Carey! ”, panggil Seth dengan perasaan lega.
“ Seth! ”, sahut Carey. Ia belari mendekat kepada Seth. “
Ini di mana?. Apa kita masih di Colorado? ”.
Seth melihat kesekitarnya, “ Sepertinya tidak. Entah ini di
mana. Yang jelas tadi hari sudah malam, kan? ”.
Langit cerah saat itu. Padahal sebelumnya setahu mereka
langit sudah gelap di tempat asal mereka. Itu adalah salah satu bukti yang
meyakinkan bahwa mereka sudah tidak berada di tempat asal mereka.
“ Mungkin kita sudah menembus waktu. Mungkin ini adalah
bentuk Colorado di masa lampau ”, ujar Ben tiba - tiba.
“ Kau benar, Ben ”, kata Mandy terlihat serius.
“ Bagaimana kau bisa begitu yakin kalau dia benar? ”, tanya
Danny yang lalu memutar bola matanya.
“ Karena setahuku, Ben selalu benar ”, jawab Mandy terdengar
lugu.
“ Jangan membuatku malu! ”, bisik Ben terdengar kesal.
“ Aku pikir kau tidak akan menyusul. Aku pikir kau terlalu
pengecut untuk melakukan hal ini ”, ledek Ashley kepada Lissette.
“ Jangan terlalu banyak berpikir!. Santai saja!. Nanti kau
bisa cepat tua ”, celetuk Carey yang membuat Ashley tersentak kaget.
Seth mencoba menahan tawanya. Ia membungkam mulut Carey agar
tidak lebih banyak lagi bicara hal yang menyindir Ashley karena kelihatannya
kemarahan Ashley hampir meledak.
“ Hei, anak kecil!. Kau jangan ikut campur! ”, gertak
Ashley. Tetapi, Carey tidak mempedulikannya. “ Sekarang sepertinya kau punya
penggemar ”, bisik Ashley kepada Lissette dengan nada menyindir.
“ Di mana pun kita sekarang, bagaimana caranya aku bisa
kembali? ”, tanya Zac tiba – tiba. Ia terlihat begitu emosi.
“ Hei, kita baru akan memulai petualangannya kawan!. Masa
kau sudah menanyakan cara kembali?. Apa itu artinya kau akan mengibarkan
bendera putih?. Kau lihat!. Dia begitu tenang. Apa kau tidak bisa seperti dia?
”, sahut Finn dengan berbisik.
Zac menoleh kesal ke arah Kyle yang terlihat tengah mencoba
mencari solusi. Finn benar, Kyle terlihat begitu tenang. Meskipun ia tahu sebenarnya
banyak hal yang tengah dipikirkannya.
“ Aku sudah tidak peduli! ”, kata Zac tiba – tiba. “ Aku
adalah aku. Dia adalah dia. Dan beginilah aku. Aku punya kelebihan yang dia
tidak miliki…. ”.
“ Dan dia juga punya kelebihan yang tidak kau miliki. Tetapi
masalahnya, kelebihan siapa yang lebih banyak?. Dia atau kau? ”, sela Finn.
Zac terlihat semakin terpancing emosi. Finn terus
memanasinya dengan berbagai kata hujatan. “ Aku tahu! ”, kata Zac tiba – tiba
yang membuat Finn tersentak kaget dan kebingungan. “ Akui saja bukan
petualangan yang kau cari!. Melainkan kau ingin kabur dari kehidupanmu. Benar,
kan? ”. Finn diam tak menjawab. “ Kau benci hidupmu, kan?. Terutama keluargamu!
”.
“ Jangan asal bicara!. Kau memang selalu sok tahu, Zac! ”,
sahut Finn terlihat salah tingkah.
“ Aku sok tahu dan kau tukang hasut! ”, kata Zac datar.
“ Aku tidak seperti itu!. Kalau pun ya, itu salahmu
sendiri!. Kalau kau merasa pintar, seharusnya kau bisa membuat pemikiran
sendiri. Kau sendiri yang selalu bergantung kepadaku ”, bentak Finn.
“ Aku tidak seperti itu!. Kau yang selalu menyalahkan setiap
pemikiranku. Kau menghasutku dan berbuat seolah – olah kau lebih benar ”, kata
Zac balas membentak.
“ Yang kulakukan hanya meralatmu, tetapi kau bagaikan orang
yang tak punya pendirian ”.
“ Kau memang pandai bicara, Finn!. Sudah berapa orang yang
kau tipu? ”.
“ Dan sudah berapa orang yang kau hina dan kau perbudak,
Zac? ”.
“ Kalian berdua hentikan! ”, teriak Kyle tiba - tiba. Keduanya pun diam tak berkata satu
patah kata pun lagi. “ Kalian bersahabat, kan?. Kenapa hanya karena masalah
seperti ini, persahabatan kalian hancur? ”. Keduanya tetap diam tak menjawab.
Kyle berjalan mendekat pada Zac. “ Kau memang orang yang cepat melupakan
sahabatmu hanya karena masalah kecil. Lebih baik koreksi dirimu, Zac! ”, bisik
Kyle.
“ Dia yang mulai duluan! ”, bisik Zac kepada Kyle. Ia masih
terlihat kesal.
“ Tidak!. Aku melihat kau yang memulai duluan. Lidahmu itu
terlalu tajam, Zac! ”, sahut Kyle datar.
“ Oke!. Salahkan saja aku terus!. Kalian semua
bersekongkol!. Aku tidak akan peduli pada kalian lagi! ”, teriak Zac tiba –
tiba sambil menunjuk teman – temannya satu - persatu. Ia berjalan mundur
perlahan menjauhi Kyle dan yang lainnya. Dan akhirnya membelakangi mereka
semua.
“ Seth, kenapa kita tidak mencoba untuk kembali melewati
dinding itu? ”, tanya Carey.
“ Tidak bisa. Mereka sudah mencobanya waktu kita menunggu
tadi. Dan aku pun sudah membuktikannya ”, jawab Seth.
Carey tampak kecewa. “ Kenapa tadi kau masuk?. Seharusnya
kalau kau tidak masuk, kita tidak akan berada di sini ”.
“ Maafkan aku!. Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi
denganku tadi. Tiba – tiba saja aku sudah berada di sini ”.
“ Jangan mengada – ada!. Tidak mungkin kalau kau tadi
berjalan sambil tidur ”, sela Carey cepat.
“ Memang tidak mungkin. Tapi benar, aku tidak sadarkan diri
ketika itu ”.
“ Tidak usah bohong lagi!. Bilang saja kau ingin menunjukkan
rasa solidaritasmu, kan? ”.
“ Percuma saja kalau kujawab, kau tetap tidak akan percaya
”, kata Seth kesal.
“ Kalian! ”, tegur Kyle tiba - tiba. Seth dan Carey sama –
sama menoleh ke arahnya. “ Kenapa kalian ikut – ikutan berdebat? ”, tanya Kyle
datar.
“ Ini semua gara – gara kau!. Seharusnya kakakku tidak
pernah berteman dengan orang seaneh kau yang hanya memberi dampak negatif buatnya
”, jawab Carey ketus.
“ Carey, apa – apaan kau?. Jangan berbicara kasar dan
melantur! ”, tegur Seth.
“ Memang itu kenyataannya. Sekarang saja kau tidak lagi
sepakat denganku ”.
“ Kau memang keras kepala. Terserah kau saja! ”, gertak Seth
yang membuat Carey murung.
“ Stop! ”, teriak Mandy sambil menutup telinganya. Semua
mata pun menoleh kepadanya. “ Aku tahu, semua ini salahku. Kalian jangan saling
bertengkar!. Kalian membuatku semakin bersalah ”.
“ Kau benar. Kau memang bersalah ”, sahut Ben santai.
“ Kau jangan ikut – ikutan menyalahkanku!. Kau kan adikku!
”, bentak Mandy.
“ Ya, sudah!. Ku terima takdirku! ”, kata Ben terdengar
pasrah.
“ Ben….! ”, teriak Mandy.
Mereka yang melihat kedua kakak beradik itu berdebat hampir
dibuat tertawa, kecuali Zac.
“ Ya sudah!. Kita jangan saling berdebat lagi!. Kita janji
pada diri kita masing – masing! ”, kata Kyle dengan menoleh ke arah mereka satu
– persatu. “ Lebih baik, sekarang kita jalani saja semua ini! ”, katanya yang
lalu mulai melangkahkan kaki. Tetapi, tidak ada satupun yang mengikuti. Ia pun berhenti
kembali. Menoleh kepada teman – temannya yang masih berdiri di belakangnya. “
Hei, ayo!. Kalau kalian diam saja, bagaimana kita bisa pulang? ”.
Beberapa menit Kyle menunggu reaksi dari teman – temannya.
Tetapi, hanya Zac yang angkat bicara. “ Kau tidak tahu apa yang sudah
menunggumu di depan sana. Jadi jangan gegabah!. Aku yakin di sini pasti ada
jalan keluarnya. Aku akan mencarinya sendiri. Aku tidak perlu bantuan kalian!.
Dan aku tidak akan ikut dengan kalian ”.
Kyle menatap lekat – lekat wajah Zac. Ia lalu berkata, “ Ya,
sudah!. Kami akan menunggu!. Kami berusaha untuk percaya kepadamu dan kami
serahkan semua masalah ini kepadamu! ”, kata Kyle dengan santai. Ia pun duduk
bersila di atas rerumputan.
Zac terlihat mulai terpancing emosi, namun ia mencoba untuk
menahannya. Nafasnya pun terdengar tidak beraturan.
Akhirnya, Zac dibuat sibuk dengan ucapannya sendiri yang
mengatakan bahwa ia tidak butuh bantuan dari siapapun. Ia terlihat begitu
serius memikirkan jalan keluar untuk mereka bisa kembali pulang.
Ketika tengah berpikir tiba - tiba terbesit ide di otaknya untuk
mencari jalan keluar di balik semak – semak belukar. Ia berharap mungkin saja
ada lubang yang bisa membawa mereka kembali ke tempat asal mereka. Ke sana
kemari ia mencari adanya lubang ajaib itu, tetapi sayangnya tidak ada.
Zac terdiam sejenak. Mencoba memutar otak kembali. Ide lain pun
terbesit dalam pikirannya. Kali ini ia mencoba mencari lubang kecil pada bagian
dasar batang pohon. Ia berharap mungkin saja ada lubang kecil seperti pintu
yang bisa mereka masuki dan bisa mengantar mereka untuk kembali. Tetapi
sayangnya sudah dicari ke mana pun, ia tetap tidak menemukannya.
Namun, Zac belum menyerah. Ternyata ia termasuk seorang yang
tidak mudah menyerah. Ia mencoba memikirkan jalan keluar lain. Lagi – lagi yang
muncul dipikirannya adalah sebuah lubang yang bisa mengantar mereka pulang.
Kali ini ia mencari lubang di bawah bebatuan. Ia pun mencari ke semua bebatuan
besar. Sayangnya, sudah bersusah payah, hasilnya tetap tidak ada. Ia pun mulai
kesal dan prustasi. Apalagi ketika ia melihat semua teman – temannya hanya
duduk bersantai – santai memperhatikannya seolah ia seperti sebuah tontonan
untuk mereka.
“ Apa kalian cuma bisa duduk saja? ”, bentak Zac yang
mengejutkan yang lainnya kecuali Finn dan Kyle. Bahkan, burung yang bertengger
di pepohonan pun serempak berterbangan meninggalkan sarangnya karena Zac baru
saja menakuti mereka dengan teriakannya. “ Oke, kalau aku berhasil menemukan
jalan keluarnya, aku melarang kalian untuk ikut! ”.
Tiba – tiba Ashley bangkit berdiri, “ Aku akan membantumu,
Zac! ”, katanya dengan terbata - bata.
“ Aku tidak butuh!. Sudah terlambat!. Aku juga tidak butuh
bantuan yang lainnya!. Aku bisa melakukannya sendiri ”, bentak Zac dengan wajah
memerah karena menahan emosinya. Berjalan, ia mendekati dinding mulut goa itu.
“ Dinding batu ini pasti ada celahnya ”, katanya sambil meraba – raba dinding
bebatuan itu. Ia terlihat begitu histeris karena ketakutan. “ Ayo terbukalah!
”, teriaknya sambil memukul – mukul dinding bebatuan itu. “ Apa karena darahnya
sudah kering? ”, katanya sambil menatap jari tangannya yang terluka. Ia lalu
mencari – cari apa saja yang bisa ia tusukan pada jari tangannya. Ia pun
menemukan setangkai bunga mawar yang tumbuh di semak - semak. Dengan sengaja
jari telunjuknya menyentuh duri di tangkai mawar itu. “ Argh…! ”, teriaknya
kesakitan. Ia terlalu kencang menyentuh duri mawar itu.
Bergegas ia kembali ke depan dinding bebatuan itu. Ia belari
dengan tergesa – gesa, sampai hampir saja ia terjatuh. “ Kenapa tidak terbuka?
”, katanya datar saat jari telunjuknya yang terluka menyentuh dinding bebatuan
itu. “ Kenapa tidak terbuka?. Apa mau kalian? ”, teriaknya sambil menampar
dinding bebatuan itu. Ia tampak begitu terpukul. “ Apa ada kata sandinya?.
Mungkin ‘darah’! ”, katanya kembali. “ Darah ”, ulangnya kali ini dengan menyentuh
dinding bebatuan itu. “ Tidak juga ”, katanya sambil menggelengkan kepala.
“ Sudahlah, Zac!. Kau hanya membuang tenaga ”, kata Kyle
datar dengan menundukkan kepala.
“ Tidak! ”, teriak Zac cepat sambil menoleh kepada Kyle. “
Bim Salabim Abrakadabra! ”, katanya kembali beralih pada dinding bebatuan itu.
Tetapi dinding itu tetap tidak bergeming. “ Open The Door! ”, katanya lagi,
tetapi tetap tidak ada reaksi apapun.
“ Zac! ”, panggil Finn datar. Tetapi, Zac tidak
menghiraukannya.
“ Sial! ”, teriak Zac. Ia lagi – lagi menampar dinding
bebatuan itu. “ Ayo, terbuka! ”, katanya dengan nada yang mulai pasrah. “
Terbukalah!. Aku ingin pulang ”, katanya lemah. Ia berusaha menahan air matanya
keluar. Terbujur lemas, ia duduk terpuruk bersandar pada dinding bebatuan itu.
Ia tampak sangat kelelahan. Ia menyembunyikan wajahnya dibalik kedua lututnya.
Merasa malu dengan teman – temannya. Ia merintih dan air mata pun mulai
membasahi pipinya.
“ Zac ”, kata Danny lemah. Ia terlihat prihatin dengan
keadaan Zac yang terpuruk.
Finn berjalan mendekati Zac. Ia berjongkok di depan Zac.
Memegang pundak Zac seraya untuk menenangkannya. “ Dinding ini hanyalah pintu
masuk. Kau percuma melakukannya. Jalan keluar kita mungkin berada jauh dari
tempat ini. Kita harus memulai perjalanan ”, katanya tetapi Zac tidak menyahut.
Ia masih merundukkan kepalanya. “ Aku tahu kau masih menyalahkanku. Aku minta maaf!.
Sebagai sahabat aku selalu membuatmu terjebak dalam masalah. Mungkin aku sudah
gila!. Kau benar, aku benci hidupku!. Entah kenapa aku selalu ingin melakukan
hal di luar batas normal?. Itu pasti karena aku sudah gila! ”, kata Finn dan ia
tertawa kecil. Ia pun duduk bersandar di dinding bebatuan di sebelah Zac. Duduk
merenungi jalan hidupnya yang rumit.
Celingukan Seth melihat wajah teman – temannya yang terlihat
lemas tak bersemangat. Sebagai seorang yang mengenal Zac, ia tidak ingin
melihatnya terpuruk dalam kesedihan. “ Ayolah, Zac! ”, ajaknya sambil berjalan
mendekati Zac. “ Aku mengerti ini terlalu berat bagimu. Mungkin banyak
kepanikan dan ketakutan yang kau bayangkan. Tapi, mungkin saja yang akan
terjadi pada kita tidak seperti bayanganmu. Lagi pula kau tidak sendiri. Kalau
kau dalam bahaya, kami teman – temanmu akan menolongmu. Percayalah!. Kita akan
saling menolong ”, lanjutnya. Ia pun mengulurkan tangan. Menunggu Zac menjabat
tangannya dan mau bangkit berdiri.
“ Hei, ayo bangkit! ”, pinta Kyle yang terlihat geregetan. “
Di mana semangatmu yang tadi?. Ini bukan seperti Zac yang kukenal. Kau biasanya
selalu percaya diri. Buang ketakutanmu!. Kau tidak sendiri!. Aku pun sebenarnya
menyimpan kepanikan yang sama denganmu. Yang lain pun begitu. Tapi, aku berusaha
melawan ketakutanku sendiri. Kalau aku tidak melawannya, hidupku tidak akan
maju dan tetap berhenti di sini. Aku yakin kau pun pasti bisa melawan
ketakutanmu! ”, tambahnya tetapi Zac belum juga menyahut. “ Kau selalu bilang
tidak akan mau kalah dariku. Kalau sekarang kau terpuruk seperti ini, itu
artinya kau sudah kalah dariku ”.
“ Diam kau!. Jangan banyak omong! ”, teriak Zac tiba – tiba.
“ Akhirnya.... ”, kata Seth lega. Zac pun menoleh ke arahnya
tanpa tersenyum. Memandangi uluran tangan Seth yang sejak tadi menunggunya.
Melihat Zac tanpa senyuman menatapnya, Seth pun menjadi salah tingkah. Dengan
gelagapan, Seth menyembunyikan tangannya.
Zac bangkit berdiri menatap satu – persatu teman – temannya
termasuk Seth yang semakin salah tingkah.
“ Ayo! ”, ajak Seth dengan canggung. Ia pun berbalik badan
kembali bergabung dengan Kyle. Ini pertama kalinya ia berani menasehati Zac
setelah selama ini ia hanya sebagai pendengar dan sesuruhan.
“ Ayo, kawan! ”, ajak Finn yang lalu merangkul pundak Zac
seraya menuntun Zac menghampiri teman – temannya.
“ Jangan kolokan seperti anak kecil!. Ini pasti karena kau
selalu dimanjakan oleh orang tuamu ”, kata Kyle dengan wajah nakalnya.
“ Kau bicara apa?. Bicara sekali lagi, aku pukul kau! ”,
ancam Zac.
Cukup jauh sudah mereka menempuh perjalanan, tetapi hanya
hamparan bukit hijau yang mereka temui. Belum ada tanda – tanda kehidupan
kecuali hewan – hewan yang berkeliaran seperti musang, kelinci, tupai dan
burung – burung.
“ Sebenarnya ini tempat apa?. Tidak ada apa – apa di sini ”,
keluh Mandy.
“ Seharusnya kau bersyukur karena tidak ada apa – apa di
sini. Itu artinya kita aman ”, sahut Ben.
“ Di mana jalan keluarnya? ”, teriak Zac di barisan paling
belakang. Tapi tidak ada yang mempedulikan.
“ Apa tidak ada yang tinggal di tempat ini?. Apa hanya ada
hewan – hewan? ”, tanya Seth tiba – tiba.
“ Aku tidak mau kau memimpin kita ke jalan yang salah ”,
celetuk Zac tertuju pada Kyle yang berada di barisan paling depan. Tetapi, Kyle
tidak menghiraukannya.
“ Apa tempat ini penuh dengan makhluk magis? ”, tanya Ben.
“ Jangan katakan itu!. Kau membuatku takut!. Aku tidak punya
kekuatan untuk melawan mereka ”, sahut Mandy cepat.
Mereka tidak boleh putus asa. Mereka sadar kalau mereka baru
sebentar saja melakukan perjalanan di tempat asing itu. Meski lelah sudah mulai
merasuki benak mereka, mereka tidak boleh menyerah pada keadaan.
Banyak pepohonan di sekitar mereka. Ben berhenti di tempat
di mana ia merasakan kecurigaan. Teman – temannya berjalan mendahuluinya. Meski
tertinggal Ben tetap mencoba mengamati apa yang dilihatnya di balik pepohonan.
Ia mencoba memfokuskan penglihatannya ke balik pepohonan itu. Ia tersentak
kaget dengan mata terbelalak.
“ Kalian! ”, panggil Ben. Serempak mereka menoleh kepadanya.
“ Kalian lihat di sana sepertinya ada goa yang sama ”, katanya sambil menunjuk
ke balik pepohonan. Ben belari mendekati deretan pepohonan itu.
Teman – teman menyusulnya di belakang. Mereka penasaran dan
ingin membuktikan perkataan Ben. Ketika Ben berhenti, mereka pun ikut berhenti.
Senyuman terlukis di wajah mereka masing – masing saat melihat apa yang
dikatakan Ben itu memang benar. Ada goa yang bersembunyi di balik pepohonan.
“ Kau benar, Ben! ”, ujar Kyle. Dengan bersemangat ia
mendekati goa itu.
Mulut goa itu sama tertutupnya dengan mulut goa tempat
mereka keluar tadi.
“ Tetapi kenapa juga tertutup?. Kau yakin ini jalan
keluarnya? ”, tanya Mandy.
“ Entahlah!. Tapi tidak ada salahnya kalau kita coba? ”,
jawab Ben.
Zac bergegas mendekati mulut goa itu. Ia terlihat kembali
bersemangat. Ia menyentuh dinding mulut goa itu dengan jari telunjuknya yang
tadi terluka. Ia menyentuhnya dengan gugup. Menunggu reaksinya sampai beberapa
menit berlalu, namun tak ada reaksi yang ditimbulkan.
“ Tak ada reaksi apa pun ”, kata Kyle datar. Hal itu membuat
Zac kecewa.
“ Tentu saja ”, sahut Finn tiba – tiba. “ Tidak mungkin
dengan mudahnya kita menemukan jalan keluarnya. Itu tidak masuk akal bagiku ”.
“ Lalu ini goa apa? ”, tanya Kyle kebingungan.
“ Apa mungkin goa ini adalah salah satu dari banyaknya pintu
masuk menuju ke tempat ini? ”, kata Seth menganalisa.
“ Mungkin kau benar ”, sahut Kyle yang lalu berbalik badan
meninggalkan goa itu. Yang lainnya menyusulnya.
“ Di sana juga ada goa ”, kata Ben tiba – tiba menunjuk ke
seberangnya. Tapi, kali ini ia terlihat biasa saja. “ Di sana juga ada ”,
katanya menunjuk ke arah lain di seberang. “ Tapi mungkin goa – goa itu juga
hanyalah goa biasa ”, katanya lemah.
Kyle dan yang lainnya berusaha memfokuskan penglihatan
mereka untuk dapat melihat apa yang ditunjukkan Ben. Tetapi, mereka hanya
melihat deretan pepohonan. Mereka pun dibuat keheranan akibat perkataan Ben.
Tetapi, tidak satu pun dari mereka yang memberi komentar.
Kembali melanjutkan perjalanan. Langkah kaki mereka tak
secepat awal. Mereka sudah kelelahan. Tiap kali keputusasaan datang mengganggu
pikiran mereka. Dan berulang kali mereka pun membuang jauh – jauh perasaan itu.
Perasaan hanya akan menghambat perjuangan mereka.
“ Tempat ini aneh ”, kata Danny sambil lalu menghela nafas.
“ Apa hanya kita yang berada di tempat ini?. Selebihnya
mungkin sudah mati karena ketakutan, kejenuhan dan kebingungan ”, kata Ashley.
“ Apa itu artinya tempat ini adalah kuburan massal? ”, sahut
Mandy ketakutan.
“ Hust… ”, kata Kyle tiba – tiba seraya meminta mereka untuk
mendengarkannya. “ Kalian lihat?. Di sana ada jembatan ”, katanya sambil
menunjuk ke arah jembatan kayu yang tidak terlalu jauh dari mereka.
“ Iya, aku lihat!. Tapi memang kenapa?. Apa untungnya? ”,
tanya Zac kesal.
“ Coba kita keseberang!. Mungkin diseberang ada seseorang
yang bisa membantu kita ”, jawab Kyle.
“ Atau mungkin goa lain yang benar – benar adalah pintu
keluar ”, sahut Finn.
Zac tak lagi menjawab. Sepertinya ia sudah sepakat dengan
mereka tanpa mengatakannya secara langsung. Bahkan, ia yang lebih dulu
menghampiri jembatan kayu itu. Tetapi ketika ia sudah dekat, ia berhenti dan
tidak mau menyebranginya. “ Aku tidak mau ambil resiko! ”, katanya tiba - tiba.
“ Kenapa? ”, tanya Finn.
“ Kau lihat saja sendiri! ”, jawab Zac.
Finn pun bergegas ke tempat Zac dan ia dibuat terkejut
ketika melihat jembatan kayu itu ternyata sudah reyot mungkin karena dimakan
usia.
Seth menelan ludah ketika melihat kondisi jembatan kayu yang
juga membuatnya terkejut. “ Kau serius, Kyle?. Kita harus menyebrangi jembatan
ini? ”.
“ Biarkan saja dia yang menyebrang dan lihat apa yang ada di
sana!. Kalau ada sesuatu baru kita ikut keseberang ”, sela Zac.
“ Mungkin sesuatu yang terkadang menakutkan itu adalah
jawabannya ”, kata Kyle canggung.
“ Ya, sudah coba sana! ”, perintah Zac.
“ Tapi, aku tidak mau mengecek ke seberang sendirian. Kalau
aku mengecek lalu tersesat? ”, kata Kyle.
“ Itu sudah resikomu karena kau yang mengajak! ”, sela Zac.
“ Kau tidak akan sendirian Kyle. Aku akan ikut ke seberang
”, sahut Seth.
“ Seth! ”, tegur Carey.
“ Aku rasa yang dipikirkan Kyle ada benarnya. Kalau kulihat
– lihat di depan kita hanya ada hamparan bukit hijau. Sampai kapan kita akan
menemukan jalan pulangnya kalau kita terus menelusuri jalan ini? ”, kata Seth.
“ Baiklah!. Kalau Seth ikut, aku ikut ”, kata Carey lemah.
“ Aku pun juga tidak takut ”, sahut Ben terlihat penuh
percaya diri. “ Kau ikut denganku kan, kak? ”.
“ Aku mau saja, tapi aku takut. Apa benar tidak akan terjadi
apa – apa pada kita kalau kita berdiri di atasnya? ”, jawab Mandy.
“ Kalau kau terjatuh paling tidak kau harus berenang ”, kata
Ben sambil melihat ke bawah jurang. Terdapat aliran sungai yang deras di bawah
sana.
“ Tapi kau kan tahu aku tidak bisa berenang ”, kata Mandy
panik.
“ Memangnya sudah pasti kau akan jatuh? ”, tanya Ben. Dan
Mandy pun tak bisa berkata apa – apa lagi.
“ Aku setuju dengan
yang dikatakan Seth. Jadi, kuputuskan untuk ikut keseberang juga ”, kata Danny
tampak melawan rasa takutnya.
“ Danny, kau serius? ”, tanya Ashley.
“ Aku serius. Kau mau ikut atau tidak? ”, kata Danny balik
bertanya.
“ Terserah sajalah! ”, jawab Ashley pasrah.
“ Aku ikut suara terbanyak ”, sahut Finn datar.
“ Bagaimana denganmu Zac? ”, tanya Danny.
“ Aku menyebrang yang terakhir saja ”, jawab Zac.
“ Lissette? ”, tanya Seth.
“ Aku pasti ikut ”, jawab Lissette canggung.
“ Baiklah!. Kalau begitu sudah diputuskan, kalau kita akan
menyebrangi jembatan ini. Terima kasih teman – teman! ”, kata Kyle.
“ Terima kasih?. Untuk apa berterima kasih?. Kau lucu sekali
”, kata Seth.
“ Kau coba duluan, Kyle! ”, pinta Finn tiba - tiba.
“ Tentu saja!. Tapi, aku punya sedikit usul. Untuk
memperkecil kemungkinan jembatan ini akan runtuh. Kalau kita melaluinya
berbarengan sekaligus, aku takut jembatan reyot ini tidak mampu menopang berat
badan kita. Jadi, bagaimana kalau kita melaluinya berdua – dua?. Laki – laki
dan perempuan. Aku khawatir kalau keduanya laki – laki akan mempercepat
jembatan ini runtuh karena berat badan laki – laki lebih berat dari berat badan
perempuan. Lagi pula, kalau laki – laki dan perempuan, laki – laki bisa
melindungi si perempuan kalau terjatuh ”, jelas Kyle.
“ Aku rasa itu ide yang bagus ”, sahut Seth.
“ Kalau begitu, aku dengan Seth! ”, ujar Carey.
“ Tidak bisa!. Kau dengan Ben ”, sela Kyle.
“ Apa?. Aku? ”, tanya Ben bingung.
“ Iya!. Kalau kau dengan Mandy, aku khawatir kalau kalian
terjatuh kau tidak mampu menahan Mandy ataupun menggendongnya. Kalau kau dengan
Carey, postur tubuh kalian tidak terlalu jauh jadi kemungkinan aman ”, jelas
Kyle kembali.
“ Ya, sudahlah!. Kalau itu lebih baik ”, kata Ben.
“ Aku tidak mau, Seth! ”, bisik Carey kesal.
“ Ikuti saja, Carey!. Semua itu masuk akal ”, sahut Seth
juga dengan berbisik. Carey pun hanya bisa pasrah.
“ Aku dengan Zac saja ”, ujar Danny tiba – tiba. Zac hanya
diam menerima keputusan. Ia tidak mungkin menolak sepupunya sendiri.
“ Ashley dengan Finn. Lissette denganku. Mandy kau dengan
Seth ”, kata Kyle.
“ Kau seperti biro jodoh ”, celetuk Zac datar dengan
memalingkan wajah.
“ Aku menentukannya dengan pertimbangan ”, sahut Kyle
membuat bingung teman – temannya.
“ Sudah jelas!. Cepatlah mulai! ”, pinta Finn sambil
bertolak pinggang. Ia sudah tidak sabar.
“ Baiklah!. Ayo, Lissette!. Kau disebelah kanan dan aku
disebelah kiri. Tanganmu boleh keduanya memegang tali jembatan itu atau satunya
memegang tanganku ”. Kyle mengulurkan tangannya. Lissette pun menerimanya
dengan canggung. “ Kau takut? ”. Lissette menggelengkan kepalanya dengan
canggung. “ Percayalah padaku! ”, kata Kyle pelan.
“ Apa saudaramu itu bisu? ”, tanya Finn.
“ Entahlah!. Aku tidak mengenalnya ”, jawab Ashley santai.
Kyle dan Lissette bersiap di depan jembatan kayu itu. Kyle
mengulurkan tangannya dan Lissette pun menjabatnya dengan canggung. Tanpa
mengulur waktu lagi, mereka pun mulai menyebranginya. Lissette tampak berusaha
untuk memberanikan diri.
Jembatan itu berayun ke kanan dan ke kiri setiap mereka
melangkah. Kayu jembatan itu berderit di setiap sisi yang mereka lewati. Mereka
melangkah dengan perlahan untuk memperkecil efek goncangannya.
Panjang jembatan itu tidak terlalu panjang. Kurang Lebih
sekitar 100 meter. Beberapa langkah lagi, Kyle dan Lissette hampir sampai di
seberang. Sejauh ini mereka tampak aman. Mereka memperbesar langkah kaki
mereka, hingga akhirnya mereka pun sampai ke seberang. Lissette tampak senang
dan lega. Kyle pun merasakan hal yang sama.
“ Kita berhasil! ”, kata Kyle yang lalu tersenyum. Lissette balas
tersenyum dengan malu – malu. “ Ayo, berikutnya! ”, teriaknya.
“ Ayo, giliran kita! ”, ajak Finn. Ia berjalan mendahului
Ashley. Ashley menyusul Finn yang sudah berdiri di depan jembatan kayu itu
menunggunya.
Ashley menarik nafas dalam – dalam untuk menenangkan
dirinya. “ Aku siap! ”.
“ Kau tidak mau membuang gitar itu?. Gitarmu itu bisa saja
mempersulit gerakanmu ”, kata Zac datar.
“ Tidak ”, sahut Finn sambil menoleh ke punggungnya. Ia
menggendong gitar kesayangannya itu. “ Gitar ini adalah sahabatku. Jadi, ke
mana pun aku harus membawanya ”. Zac memutar bola matanya. “ Baiklah!. Kalau bisa kau melangkah dengan
lebar – lebar dengan begitu kita akan cepat sampai ke seberang ”, kata Finn
beralih pada Ashley. Ashley mengangguk canggung karena kurang percaya diri.
Mereka pun melangkah menyebrangi jembatan kayu itu tanpa
berpegangan seperti yang dilakukan Kyle dan Lissette. Ashley yang ketakutan
sesungguhnya berharap Finn mau berpegangan tangan dengannya. Tapi, Finn terlalu
dingin untuk melakukan hal itu. Ashley pun tak berani memintanya. Wajah Finn
yang terlihat serius yang membuat Ashley tidak berani mengatakannya.
Karena sibuk memikirkan hal itu, membuat Ashley sulit
berkonsetrasi dan akhirnya tertinggal oleh Finn.
“ Hei, apa yang kau pikirkan? ”, tanya Finn menoleh kepada
Ashley yang ada di belakangnya. Ia terlihat kesal.
“ Tidak!. Bukan apa – apa ”, jawab Ashley cepat sambil
menggelengkan kepala. Sesungguhnya ia iri kepada Lissette. Banyak orang yang
lebih memperhatikan Lissette ketimbang dirinya.
Pada akhirnya, Finn tiba lebih dulu dari Ashley. Tetapi
syukurlah, Ashley mampu melewatinya sendiri tanpa bantuan perlindungan dari
Finn.
“ Ayo, giliran kita! ”, ajak Danny.
“ Apa?. Sekarang?. Kenapa kita tidak terakhir saja? ”, tanya
Zac panik.
“ Aku ingin cepat – cepat sampai ke seberang ”, jawab Danny
kesal.
“ Zac, masa kau lebih takut dari pada dia?. Kau kan laki –
laki ”, sindir Seth.
“ Kelihatannya kau mulai berani? ”, tanya Zac dengan maksud
menyindir.
“ Jangan bicara saja!. Ayo! ”, paksa Danny.
Zac menghela nafas kesal. “ Baiklah! ”.
“ Kau tidak perlu mengkhawatirkanku! ”, kata Danny tiba –
tiba.
“ Baguslah! ”, sahut Zac santai. Meskipun bersaudara ia dan
Danny jarang berbicara karena keduanya sama dinginnya. Tetapi, bukan berarti
mereka bermusuhan. Zac akan menolong Danny kalau dipinta, begitupun sebaliknya.
Danny menginjakan kakinya lebih dulu pada jembatan kayu itu.
Disusul oleh Zac. Ia melangkah terlalu tergesa – gesa yang akhirnya membuat
jembatan itu bergoncang lebih kencang.
“ Kau jangan tergesa – gesa!. Kau membuat jembatan ini
bergoncang lebih kencang ”, kata Zac kesal sambil berpegangan pada tali
jembatan itu dengan kedua tangannya seraya menahan jembatan itu untuk
bergoncang lebih kencang lagi.
“ Maaf!. Aku hanya tidak mau berlama – lama berada di atas
jurang ”, sahut Danny tanpa perasaan bersalah.
“ Seharusnya aku tidak berpasangan dengan cewek gegabah
sepertimu ”, gumam Zac.
Danny tak membalas. Ia hanya menoleh kepada Zac.
“ Hei, kalian jangan bertengkar!. Lihat apa yang ada di
bawah kalian ”, teriak Finn.
Danny dan Zac pun bersamaan menoleh ke arah bawah. Jurang di
bawah mereka amat dalam. Membuat bulu kuduk mereka berdiri dan kepala mereka
berputar – putar.
“ Kau menakuti mereka ”, tegur Kyle.
“ Aku hanya mengingatkan ”, sahut Finn santai. Kyle pun
memutar bola matanya.
Meskipun sempat terhambat tetapi pada akhirnya Danny dan Zac
berhasil tiba di seberang. Mereka pun bersama menunggu giliran selanjutnya yang
akan menyebrangi jembatan kayu itu.
“ Sebaiknya, kalian duluan! ”, perintah Seth sambil
mengangguk untuk meyakinkan Ben dan Carey kalau ia tidak apa – apa.
“ Baiklah!. Ayo! ”, ajak Ben.
Dengan ragu Carey mengikuti Ben dari belakang. Berhenti
tepat di depan jembatan kayu itu. Ia memandang jauh ke seberang. “ Setidaknya
jembatan ini tidak terlalu panjang ”, katanya datar.
“ Aku menawarkanmu satu hal ”, kata Ben tiba – tiba membuat
Carey kebingungan.
“ Apa tawaranmu itu menguntungkan? ”, kata Carey balas
bertanya sambil bertolak pinggang.
“ Aku yakin, ya! ”, kata Ben dengan tersenyum.
“ Apa? ”, tanya Carey terlihat bingung dan penasaran.
“ Aku menawarkanmu kalau kau mau memegang tanganku, aku tak
apa – apa ”.
Carey memutar bola matanya tampak tidak tertarik dengan
tawaran Ben itu. “ Itu maumu saja. Jangan harap!. Dan jangan mencoba
menyentuhku!. Kecuali kalau aku jatuh ”, katanya ketus.
Ben tertawa kecil. “ Ada pengecualian untuk itu? ”, katanya
yang lalu memalingkan wajah dari Carey yang menatap kesal kepadanya. “ Ya,
sudah!. Cepat sana duluan! ”.
Seth dan Mandy terkejut mendengar perkataan Ben. Mereka
mencemaskan keduanya. Sebaliknya, Carey menganggap Ben baru saja menantangnya.
“ Ben!. Kau biasanya tidak pernah seperti itu terhadap
perempuan ”, tegur Mandy.
“ Aku hanya menyuruhnya duluan. Bukan berarti aku tidak
peduli. Dia kan tidak ingin bersentuhan denganku, sedangkan jembatan ini
terlalu sempit untuk kita lalui bersama tanpa saling bersentuhan ”.
Seth tampak tersedak dan menahan tawanya. Mereka tampak lucu
buatnya.
Tiba – tiba saja Carey melangkah lebih dulu ke atas jembatan
kayu itu. Tanpa berkata apapun. Ben menyusulnya dari belakang. Carey bisa
mendengar Ben menghela nafasnya. Ia tahu Ben mungkin kesal dengan tingkahnya.
Baru beberapa langkah mereka melewati jembatan itu. Tiba –
tiba saja Carey berhenti membuat Ben mengerem mendadak. Cepat – cepat ia
menarik tubuhnya ke belakang agar tidak menabrak Carey.
“ Kenapa berhenti? ”, tanya Ben kesal.
“ Aku takut di depanku sekarang kayunya lebih reyot ”, jawab
Carey dengan nada membentak.
Ben mencoba mengintip dari balik kepala Carey. “ Lalu kau
mau diam di tempat sampai kapan?. Cepatlah! ”, kata Ben geregetan.
“ Jangan menyuruhku cepat – cepat! ”, kata Carey ketus. Ia
pun membuka langkah lebih lebar untuk melewati bagian kayu yang reyot. Ia
berhasil.
“ Kau bisa, kan?. Kenapa tadi pakai berhenti?. Bilang saja
kau sengaja agar aku menabrakmu lalu kita bersentuhan dan kau akan marah –
marah padaku ”.
Carey menoleh kesal ke arah Ben yang ada di belakangnya. Ia
memelototi Ben, tapi Ben malah tersenyum nakal membuatnya bertambah kesal.
Aku ingin
memukulnya.
Carey menggerutu di dalam hati. Tetapi, ia tidak menuruti kata hatinya dan
kembali melanjutkan melangkah di atas jembatan kayu itu dengan perlahan.
Ben melihat ke sisi kanan dan kirinya. Tali jembatan itu
tampak tarik – menarik. Tiba – tiba saja ia tidak sengaja menabrak Carey. Carey
menahan diri untuk tidak terjatuh. Jembatan kayu itu bergoncang kencang akibat
mereka bertabrakan. Carey mencoba berlindung pada satu sisi. Kakinya gemetaran.
“ Ini karena kau! ”, teriak Carey.
“ Apa?. Aku?. Kau yang salah selalu berhenti tiba – tiba ”.
“ Perutku tiba - tiba mual. Sepertinya aku takut ketinggian
”, keluh Carey.
Ben menepuk dahi. “ Kenapa kau tidak bilang dari awal?.
Kalau tahu begitu, seharusnya tadi aku yang jalan di depanmu supaya kau tidak
melihat ke depan dan ke bawah ”, kata Ben yang lalu menggelengkan kepala. “
Minggir! ”, perintah Ben. Mereka pun bertukar posisi. “ Sekarang kau tidak usah
melihat ke depan. Dan jangan melihat ke bawah!. Lihat saja kepalaku! ”.
“ Melihat kepalamu aku ingin memukulnya ”, kata Carey dengan
raut wajah serius.
“ Kau benar – benar membuatku kesal ”, gumam Ben pelan.
“ Kau bicara apa? ”, gertak Carey.
“ Aku mohon aku tidak ingin bertengkar denganmu di saat
seperti ini! ”, kata Ben tanpa menoleh sedikitpun pada Carey. Carey merunduk,
merasa tidak enak.
Keduanya tak menyadari. Teman – teman mereka diseberang pun
tidak ada yang menyadari. Mereka sibuk memperhatikan Ben dan Carey yang terus
bertengkar.
Di satu sisi di depan mereka, di sebelah kiri tepatnya, tali
jembatan tampak menipis akibat gerakan tarik – menarik dan goncangan yang
mereka timbulkan terutama goncangan saat Ben dan Carey bertabrakan adalah
goncangan paling kencang dari pada mereka yang lebih dulu melewati jembatan
itu.
Tidak lama kemudian, apa yang ditakutkan itu terjadi. Tanpa
menunggu Ben dan Carey tiba di seberang dengan selamat, tali jembatan itu
putus. Jembatan kayu pun miring ke sisi kanan. Carey tak sempat berpegangan
pada tali jembatan mana pun ketika ia terjatuh. Beruntung Ben lekas menggenggam
lengan Carey bersamaan ketika gadis itu berteriak. Teman – teman di seberang
tampak panik.
“ Bertahanlah! ”, kata Ben dengan satu sisi tangannya
bertumpu pada tali jembatan yang masih utuh. Wajah Ben meringis, berusaha
menguatkan diri. “ Bisa kau pegang kakiku? ”, pinta Ben akhirnya.
Carey menurut. Ia hampir menangis karena kejadian ini, tapi
ia berusaha untuk tidak menangis. Ia tidak mau membuat Ben bertambah panik. Meskipun
Ben tak bisa melihat jelas wajahnya bila menangis karena sekarang ia sudah
membelakangi Carey dan Carey berada di bawah kakinya.
Ketika Carey melepaskan genggaman tangan Ben, Ben lekas
mengangkat tangan kirinya memegang tali jembatan yang masih utuh itu. “
Manjatlah ke punggungku sekarang!. Kau pasti bisa! ”, pinta Ben kembali.
Carey mengangguk pelan meskipun Ben tak melihatnya. Ia mulai
bergerak perlahan. Memanjat tubuh Ben sampai ke punggungnya. Jantungnya
berdegub kencang, ia mencoba untuk tetap tenang. Tubuhnya gemetaran, Ben bisa
merasakannya. Sekarang ia bertumpu pada kedua lutut Ben dengan kedua tangannya
memeluk lutut Ben.
Dengan perlahan namun pasti, Carey terus memanjati tubuh
Ben. Ia berhenti sejenak, terlihat kesal saat sadar Ben berusaha menahan
tawanya.
“ Kenapa berhenti? ”, tanya Ben.
“ Kau menertawakanku ”, jawab Carey ketus.
“ Tidak!. Aku hanya tidak kuat menahan geli. Itu semua
salahmu. Kau seharusnya tidak bergerak dengan pelan – pelan karena itu
membuatku semakin merasa geli ”.
“ Aku takut kalau cepat – cepat ”, sahut Carey kesal.
“ Tapi aku lebih kesulitan untuk bertahan bila aku merasa
geli ”, sela Ben.
“ Bisakah kalian tidak bertengkar di situasi seperti ini?.
Kalian membuang – buang waktu ”, tanya Seth kesal. Ia terlihat jenuh.
“ Maafkan, kami! ”, jawab Ben terlihat merasa bersalah.
“ Bagaimana dengan kita nanti? ”, keluh Mandy ketakutan.
Tetapi, Seth tidak menjawab.
Carey kembali memanjati tubuh Ben. Kini ia melakukannya agak
cepat sesuai keinginan Ben. Sebenarnya ia risih untuk melakukan hal ini. Tapi
sayangnya tidak ada cara lain. Ia bertumpu sepenuhnya pada Ben.
Jembatan kayu itu bergoncang setiap kali Carey bergerak.
Ketika Carey berhenti dan berpegangan pada kedua pundak Ben, jembatan kayu itu
pun ikut berhenti.
“ Sudah!. Sekarang apa? ”, tanya Carey setengah berteriak.
“ Berpeganganlah seerat yang kau mau!. Karena kita akan
mencoba bergerak ”, jawab Ben.
Perkataan itu terasa ada yang mengganjal bagi Carey, tapi ia
tidak mengerti. Saat ini ia terlalu malas untuk berpikir. Memikirkan
keselamatan mereka saja itu sudah cukup. Ia juga tidak ingin bertengkar lagi
dengan Ben.
Ben bergeser dari satu sisi ke sisi lain. Bergelantungan
pada tali jembatan yang terus bergoncang tiap kali ia bergerak. Sedikit lagi
mereka hampir tiba di tepi seberang. Tapi sayangnya, masalah lain kembali
muncul. Tali jembatan yang masih utuh yang menjadi tumpuan mereka sekarang akhirnya
ikut putus. Ben tersentak kaget begitu pun dengan Carey yang langsung menjerit
ketakutan. Teman – teman mereka ikut tersentak kaget. Untungnya Ben cepat tersadar
dan dengan cepat meraih salah satu bagian tali yang terputus yang mengarah ke
tepi seberang.
Ben mendarat dengan kedua kakinya bertumpu pada dinding
tebing. Carey masih merangkul pundaknya erat – erat. Bahkan, tekanannya semakin
erat karena terdorong rasa ketakutan. Ben hampir tercekik dibuatnya.
“ Bisakah kau memberikan ku ruang untuk bernapas? ”, kata
Ben tersendat – sendat.
Carey terkejut mendengarnya. Ia baru sadar kalau ia telah
membuat Ben sulit bernafas. Dengan tidak enak hati, ia pun menurut,
merenggangkan sedikit pegangannya.
Sekarang Ben dihadapi dengan masalah lain. Ia harus mendaki
tebing bebatuan itu. Suatu hal yang tidak terlalu sulit sebenarnya. Namun,
sedikit terhambat karena ia harus menopang tubuh Carey di punggungnya.
Sejujurnya, Carey terpikir untuk turun dari punggung Ben
agar Ben bisa dengan mudah memanjat. Tapi, ia ragu bisa memanjat tebing itu
sendiri. Walaupun memanjat pohon sudah sering ia lakukan, tetapi memanjat
tebing adalah satu hal yang lebih sulit dari pada memanjat pohon.
“ Maafkan aku! ”, kata Carey lemah. Tetapi, Ben tidak
menghiraukannya. “ Aku sudah menyusahkanmu ”, lanjutnya tapi Ben tetap tak
menjawab. “ Aku tahu kau marah denganku ”. Ben masih juga tak menjawab. “ Apa
kau tidak mau memaafkanku?. Kenapa kau diam saja? ”. Carey menunggu Ben
menjawabnya. Tetapi, Ben tak juga menjawab. “ Hei, kau marah denganku?. Aku kan
sudah minta maaf. Apa kau seorang yang begitu pendendam? ”, bentak Carey
akhirnya. Karena kesal, ia mengguncang – guncang tubuh Ben.
“ Hei, apa – apaan kau?!. Kita bisa terjatuh tahu? ”, kata
Ben kesal.
“ Habisnya dari tadi kau diam saja ”, teriak Carey.
Ben mengernyit. Teriakan Carey di dekat telinganya bisa saja
merusak gendang telinga Ben. “ Memangnya kau tadi bicara?. Bicara apa? ”.
“ Ah, kau menyebalkan! ”, kata Carey memukul punggung Ben.
“ Kau ini kenapa sih?. Aku kan tidak mengerti maksudmu ”.
“ Lupakan! ”, teriak Carey.
Akhirnya, Carey berhenti berbicara. Ben pun melanjutkan
perjuangannya. Di atas tebing, Kyle sudah menunggu dengan mengulurkan tangan.
Siap untuk menarik mereka ke atas. Pada akhirnya, mereka pun tiba di seberang
dengan selamat. Ben dan Carey terlihat bisa bernafas lega.
“ Syukurlah kalian selamat!. Aku pusing melihat kalian
bertengkar terus ”, kata Kyle lega.
“ Yang tadi itu cukup menegangkan, tapi aku sedikit pun
tidak mendengar kata terima kasih ”, kata Ben datar tanpa menoleh pada Carey.
Kyle menoleh pada Carey dengan kedua alis terangkat.
Menunggu tanggapan Carey setelah mendengar perkataan Ben, tetapi Carey tetap
diam. Dari wajahnya, Carey terlihat ingin mencibir Ben.
Kyle menggelengkan kepala kesal dengan sikap kedua remaja
yang baru beranjak dewasa itu.
“ Hei, jangan lupakan kami! ”, panggil Seth. Serentak semua
menoleh padanya di sisi seberang. “ Bagaimana dengan kami sekarang? ”.
Kyle mencoba untuk berpikir. Satu hal terbesit di
pikirannya. Hanya ada satu cara Seth dan Mandy bisa sampai di seberang. “ Di
bawah sana ada aliran sungai. Kalian bisa menyebranginya dengan bertumpu pada
batu – batu itu. Tapi kalian harus berhati – hati karena batu – batu itu pasti
licin ”.
Seth menoleh ke bawah. Tiba – tiba saja ia menggelengkan
kepala. “ Tidak mungkin. Kami tidak mungkin melakukannya. Tali jembatan ini
tidak sampai ke bawah ”, katanya dengan wajah panik.
Kembali berpikir, Kyle mondar – mandir di sisi seberang.
Sementara Seth berpikir dalam diam. Terpikir untuknya meloncat dan menangkap
Mandy dari bawah, tapi ia khawatir, ia gagal melakukannya karena jarak yang
begitu jauh dari ujung tali hingga ke bawah. Ia pun ragu dapat mendarat dengan
aman di kedua kakinya. Mereka pasti akan mengalami cidera.
“ Seth! ”, panggil Kyle menyadarkan. Seth menoleh padanya dan
berusaha menyimak baik – baik perkataan Kyle. “ Kita bisa membuatnya memanjang
dengan cara menyatukan kedua tali di sisi kanan dan kiri jembatan kayu ini.
Mungkin talinya tetap tidak sampai ke bawah tetapi setidaknya bisa lebih
panjang dan jarak kalian bisa lebih dekat ke bawah ”.
“ Baiklah!. Akan ku coba ”, sahut Seth yang kemudian menarik
jembatan kayu yang tergantung ke atas tebing.
Mandy ikut membantunya, melepas setiap simpul yang mengikat
pada papan kayu. Simpulnya sangat kuat. Perlu waktu lama untuk melepas
semuanya. Apalagi mereka hanya berdua. Dari tepi seberang Kyle dan yang lainnya
sudah menyelesaikan tugas mereka melepas satu – persatu simpul lebih dulu dari
pada Seth dan Mandy.
Kyle berpikir sambil memegang satu papan kayu. “ Seth! ”,
katanya tiba – tiba.
Seth menoleh sambil masih melepas satu – persatu simpul yang
masih tersisa.
“ Ada baiknya kalau kalian membawa dua papan kayu. Mungkin
kalian akan membutuhkannya kalau kalian terjatuh ke arus sungai yang deras di
bawah. Papan kayu ini akan membantu kalian mengapung ”, kata Kyle.
Seth mengacungkan jempol kepada Kyle yang mengartikan kalau
ia siap mengikuti saran yang diberikan Kyle tersebut. Walaupun dipikir – pikir
papan kayu itu dapat menganggu mereka ketika menyebrang. Tetapi, tidak ada salahnya
juga kalau mereka membawanya.
Seth puas setelah ia dan Mandy berhasil melepas semua simpul
yang mengikat. Langkah terakhir adalah menyatukan kedua utas tali itu.
Mengikatnya sekencang mungkin agar tak terlepas. Meskipun itu tidak akan
terjadi karena setiap gerakan mereka ketika menuruni tebing secara tidak
langsung mereka akan membuat ikatan itu semakin kencang karena daya tarik –
menarik yang mereka timbulkan.
“ Ayo, kita harus
bergegas! ”, ajak Seth.
Mandy terdiam hanya menatap Seth dengan ragu. Jari
telunjuknya menyentuh bibirnya yang digigitnya seolah menandakan bahwa ada yang
dipikirkannya.
“ Ada apa? ”, tanya Seth curiga.
“ Hei, kenapa?. Ada masalah?. Kenapa kalian diam saja? ”,
tanya Kyle tiba – tiba. Seth dan Mandy tersentak kaget dan menoleh kepadanya.
“ Aku tahu masalahnya ”, sela Ben yang tengah duduk di atas
sebongkah batu. Kyle menatap cemas ke arah Ben. “ Masalahnya kakakku yang
cengeng itu tidak bisa berenang ”.
“ Seth juga cengeng! ”, celetuk Zac dan ia pun tertawa
kecil.
“ Seth tidak cengeng!. Itu mungkin kau ”, sahut Carey kesal.
Zac diam memelototinya dengan kesal. Carey sama sekali tidak
takut kepadanya. Bahkan, ia balas memelototi Zac. Pada akhirnya, Zac yang
mengalah. Secara naluriah, ia mengalah pada yang lebih kecil.
“ Aku tidak bisa berenang ”, kata Mandy pelan.
Seth menepuk dahinya. “ Ya, sudah!. Tak masalah!. Aku akan
membantumu kalau kau terjatuh. Tapi mudah – mudahan saja kita aman sampai ke
tepi seberang ”. Mandy mengangguk dan tersenyum.
Teringat akan pesan Kyle untuk membawa dua papan kayu demi
berjaga - jaga, Seth sengaja menjatuhkan dua papan kayu yang terlihat masih
bagus ke dasar jurang lebih dulu agar tidak menyulitkan mereka ketika menuruni
tebing. Kedua papan kayu itu sepertinya jatuh di tempat yang diinginkannya. Tidak
terjatuh ke sungai dan terbawa alirannya.
Dari tepi seberang Kyle dan yang lainnya bisa melihat Seth
dan Mandy memulai untuk menuruni tebing. Seth turun lebih dulu agar ia bisa
sampai ke bawa lebih dulu dan siap menangkap Mandy ketika ia melompat. Tidak
disangka mereka cukup lihai menuruni tebing bebatuan itu. Menuruni tebing
memang lebih mudah dibandingkan jika harus mendakinya. Entah apa yang akan
terjadi pada mereka ketika mereka mendaki tebing di tepi seberang nanti.
Semakin mereka menuruni tebing, semakin Kyle dan yang
lainnya tidak dapat melihat mereka dengan jelas lagi. Jurang di bawah mereka
amat dalam. Seth hampir tiba diujung tali, ia tahu apa yang harus diperbuatnya
selanjutnya.
“ Kenapa berhenti? ”, tanya Mandy.
“ Aku hampir sampai di ujung. Aku rasa ini waktunya aku
melompat. Kau tunggulah di sini!. Pegangan yang erat!. Kalau aku sudah siap kau
boleh melompat. Aku akan menangkapmu ”.
“ Baiklah! ”, kata Mandy terdengar pasrah.
Seth memberi aba – aba pada dirinya sendiri. Ia menghitung
dari satu hingga tiga. Pada hitungan ketiga, ia lekas melompat ke dasar jurang.
Pendaratannya tidak terlalu mulus. Rasa takut membuatnya kurang percaya diri.
Ia sempat terjungkang ketika sampai di dasar jurang, hingga kemudian kembali
bangkit berdiri.
Seth membersihkan bagian belakang celananya yang kotor terkena
pasir. Ia berdiri menatap Mandy yang masih berada di atas seolah mengukur
ketinggian dan membandingkannya dengan kemampuannya. Ia ragu tetapi ia harus
tetap melakukannya. Ia bergeser hingga tepat berada di bawah Mandy.
Seth membuka lebar tangannya dalam bentuk siku – siku.
Bersiap untuk menangkap Mandy dari bawah. “ Aku siap! ”, katanya sambil menelan
ludah.
Mandy pasrah dengan nasibnya. Ia tidak mau memikirkan apa
yang akan terjadi padanya nanti jika Seth gagal menangkapnya. Untunglah dasar
jurang itu berlapis pasir, sehingga luka yang mungkin dialaminya hanyalah luka
terkilir. Tetapi beberapa bongkah batu besar juga terdapat di dasar jurang itu.
Ia tidak ingin jatuh dan mengenai salah satunya.
“ Kau jangan gugup!. Kalau kau gugup, aku pun juga akan gugup
”, kata Seth lemah.
“ Aku tidak gugup! ”, sahut Mandy seraya menenangkan Seth. “
Serius! ”.
Seth mengangguk sambil menelan ludah. Ia mengisyaratkan
kepada Mandy untuk mulai melompat karena sekarang ia sudah benar – benar siap.
Mandy balas mengangguk. Ia pun juga sudah siap dengan segala
resikonya. Tiba – tiba saja ia melepaskan genggamannya dan melompat ke bawah
dengan mata terpejam. Ia berteriak ketakutan.
Seth menyesuaikan arah jatuhnya dan akhirnya ia berhasil
menangkap Mandy. Walau sempat kehilangan keseimbangan dan membuat mereka berdua
tersungkur. Mandy jatuh menimpa Seth. Mereka saling bertatapan. Teriakan teman
– teman mereka dari atas menyadarkan keduanya.
“ Apa kalian baik – baik saja?. Kami tidak bisa melihat
kalian ”, teriak Kyle.
“ Seth!. Kau tidak apa – apa? ”, teriak Carey.
“ Kenapa kalian tidak menjawab? ”, teriak Ben.
“ Ribut sekali ”, kata Seth datar sambil mencoba bangkit
berdiri.
Mandy bangkit berdiri lebih dulu. Menyingkir dari atas tubuh
Seth.
Seth membersihkan celana, baju dan rambutnya yang kotor
terkena pasir. “ Kami baik – baik saja ”, teriaknya akhirnya.
“ Aku juga tidak apa – apa ”, teriak Mandy.
Kyle dan yang lainnya terlihat lega. Meski suara Seth yang
terdengar samar – samar, tapi mereka bisa mendengar dengan baik apa yang
dikatakan Seth.
Seth kembali fokus dengan rintangan selanjutnya yang harus
mereka lewati, yaitu menyebrangi arus sungai yang deras. Ia mencari papan kayu
yang tadi dijatuhkannya. Papan kayu itu tergeletak tidak jauh dari tempat
mereka mendarat.
“ Untung saja tidak patah! ”, kata Seth sambil mengamati
baik – baik kondisi papan kayu mereka. “ Ini punyamu! ”, katanya sambil
menyerahkan papan kayu satunya pada Mandy.
Mandy mengambilnya dari tangan Seth. “ Apa dengan papan kayu
ini aku bisa berenang? ”, tanyanya.
Seth tersenyum terpaksa. Ia tidak mengerti mengapa Mandy
bisa berpikiran mengenai hal itu dan seharusnya dia tidak perlu menanyakannya
karena ia pasti tahu jawabannya sendiri. “ Papan kayu ini hanya akan membantumu
mengambang. Kalau kau terjatuh jauh dariku sebelum aku sempat menangkapmu. Aku
yang akan membantumu berenang nanti ”, jawabnya.
“ Baiklah!. Ayo, cepat!. Aku ingin segera sampai ke atas ”,
kata Mandy bersemangat.
“ Ya! ”, sahut Seth sambil mengangguk. “ Untuk yang
sekarang, kau duluan!. Aku akan berjaga dari belakang ”.
Mandy mengerti dan tidak menolak. Ia sudah siap berdiri di
seberang bongkahan batu pertama. Sampai akhirnya, Seth menghentikannya.
“ Tunggu!. Apa sepatumu licin?. Kalau ya, sebaiknya kau
lepas saja!. Aku pun akan melepas sepatuku ”, kata Seth yang lalu melepas
sepatunya dan menyandangnya.
Mandy mengikuti saran Seth. Ia mengerti kalau bertelanjang
kaki lebih aman ketika ia harus melangkah di atas batu yang licin. Mandy pun
menyandang sepatu miliknya. Tetapi, Seth menyuruhnya untuk memberikannya
kepadanya.
“ Tunggu! ”, tegur Seth dan Mandy pun menoleh kepadanya. “ Kau
sebaiknya tidak memegang apa – apa selain papan kayu itu. Memegang sepatu, aku
takut akan menyusahkan ruang gerakmu ”.
“ Baiklah!. Terima kasih ”, kata Mandy sambil memberikan
sepasang sepatunya pada Seth.
Sekarang tidak ada penghalang lagi. Seth pun tidak lagi
menghentikannya. Mandy dengan gugup memulai melompat di atas bongkahan batu
yang terdekat dengan tepi. Seth masih menunggunya di tepi sampai ia berhasil
melompat ke batu selanjutnya. Begitu seterusnya, Seth mengikuti Mandy dari
belakang.
Mereka baru melangkah di tiga bongkahan batu tetapi Mandy
sudah cukup senang. Ia tidak percaya kalau ia bisa melakukannya dengan baik.
Seharusnya ia lebih percaya diri dari awal.
“ Tetap konsentrasi!. Jangan memikirkan yang lain!. Jangan
cepat puas! ”, kata Seth menyadarkan.
“ Aku tahu Seth! ”, sahut Mandy sambil tersenyum. Ia mulai
melompat pada batu berikutnya. Ada batu yang ukurannya lebih besar dan kecil.
Mandy memilih batu yang lebih besar, ia pikir kalau ia bisa lebih aman berada
di batu itu. Tetapi, ia kurang berkonsentrasi dan hilang keseimbangan hingga
tergelincir.
Mandy jatuh ke sungai. Seth cepat – cepat menangkapnya,
hingga akhirnya ia ikut jatuh ke sungai. Mereka bisa merasakan arus sungai yang
deras. Arus deras itu terus menarik mereka ke hilir. Seth berusaha melawannya.
Seth bisa mendengar nafas Mandy yang terengah – engah. Ia tahu gadis itu
ketakutan. Cepat – cepat Seth menariknya untuk berenang. Ia agak kesulitan
dengan menyandang dua pasang sepatu sambil berenang. Ia pun terpaksa membuang
papan kayu yang dipegangnya untuk lebih mempermudahnya berenang, sedangkan
papan kayu milik Mandy sudah lebih dulu terbawa sampai ke hilir, jatuh ketika
ia terjatuh.
Seth berhasil mendapatkan perlindungan. Ia berpegangan pada
bongkahan batu yang paling besar dengan tangan kanannya dan di tangan kirinya,
ia merangkul Mandy yang tengah terisak – isak.
“ Jangan menangis!. Peganganlah! ”, bujuk Seth.
Mandy tak punya jawaban selain menuruti Seth. Ia memeluk
erat bongkahan batu besar yang kokoh itu. Meskipun arus deras berkali – kali
menerpanya tetapi batu besar itu tetap kokoh berdiri.
Sekarang mereka berpegangan pada batu yang sama. Seth tetap
melindungi Mandy. Ia merangkul Mandy dengan satu tangannya tetap memeluk batu
besar itu. Menunggu arus deras mereda agar mereka bisa naik ke atas batu - batu pada sungai itu.
Karena jauh tak terlihat, teman – teman mereka tidak tahu
apa yang tengah menimpa keduanya. Mereka menunggu dalam cemas karena Seth dan
Mandy belum juga terlihat batang hidungnya.
“ Kenapa mereka lama sekali?. Aku rasa aku harus mengecek ke
bawah ”, kata Kyle yang lalu terlihat tergesa – gesa.
“ Aku ikut! ”, ujar Ben.
“ Tidak!. Biar aku saja!. Aku yang mengajak kalian melewati
jembatan ini, jadi jika ada sesuatu yang terjadi pada kalian, maka aku yang
harus bertanggung jawab ”, kata Kyle yang lalu menuruni tebing bebatuan itu.
Kyle menuruni tebing itu dengan cepat. Semakin turun, ia
semakin bisa melihat Seth dan Mandy. Keduanya tengah duduk di atas bongkahan
kayu masing – masing. Mereka basah kuyup. Apa yang dilihat Kyle sungguh
membuatnya cemas.
“ Seth! ”, panggil Kyle yang tengah bergelantungan pada tali
di tebing.
Seth menoleh kepadanya. Nafasnya sudah mulai teratur.
Berbeda dengan Mandy yang masih terlihat syok.
“ Apa yang terjadi pada kalian? ”, tanya Kyle saat tiba di
dasar jurang. Ia mendarat dengan mulus pada kedua kakinya. “ Lemparkan sepatu
kalian! ”, katanya tiba – tiba.
Seth mencoba untuk berdiri. Mengatur keseimbangan tubuhnya.
Batu yang dipijaknya permukaannya tidak halus, sehingga membuatnya sulit untuk
memilih bagian yang bisa dipijaknya. Ketika ia berhasil menyeimbangkan diri,
Seth menuruti perintah Kyle. Melemparkan sepatu miliknya dan milik Mandy kepada
Kyle.
Kyle pontang – panting menangkap kedua pasang sepatu itu. “ Apa
kalian sudah baikan? ”, tanyanya cemas.
“ Ya!. Yang tadi itu nyaris ”, kata Seth yang akhirnya bicara.
Seth mengusap – usap lengannya yang memar karena terbentur batu.
“ Kau masih bisa melanjutkannya?. Sedikit lagi kalian sampai
”, kata Kyle lemah.
Seth melihat ke depan. Beberapa bongkah batu lagi ada di
depannya. Mereka hanya perlu melompat tiga kali lagi, hingga akhirnya mereka
sampai ke tepi.
“ Ayo! ”, kata Seth mengajak Mandy berdiri. Ia mengulurkan
tangannya agar Mandy mau berdiri. Meskipun tidak mungkin Mandy bisa menjabat
tangannya karena jarak mereka yang berjauhan.
Mandy terlihat lemah dan pasrah. Ia menurut, mencoba
berdiri. Ia terlihat gugup ketika ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya.
“ Hati – hati! ”, kata Seth cepat. Ia memasang ancang –
ancang, siap menangkap Mandy jika ia terjatuh lagi. Seth berada di belakang
Mandy. Ia memilih batu yang berada tepat di belakang Mandy ketika memanjat tadi.
“ Kau masih kuat, kan? ”.
Mandy mengangguk gugup. Ia merasa sudah baikan setelah
beristirahat. Ia lalu mengambil ancang – ancang, siap melompat kembali. Ia
melompat dengan penuh keyakinan. Rintangan kali ini tidak terlalu sulit. Ia
dapat melewatinya dengan mudah, hingga tiba pada batu terakhir.
Batu terakhir jaraknya jauh ke tepi. Di seberang Kyle
berdiri mengulurkan tangannya, siap untuk menangkap Mandy. Secara naluriah,
Mandy mengulurkan tangannya.
“ Lompatlah!. Tidak
akan ada apa – apa ”, kata Kyle.
Mandy ketakutan melihat arus deras di bawah kakinya. Ia
sadar seharusnya ia tidak melihatnya karena hal itu hanya membuatnya gugup.
“ Kau pasti aman!. Kyle menjagamu dari depan dan aku
menjagamu di belakang ”, kata Seth tiba – tiba.
Perkataan Seth sudah cukup menenangkannya. Mandy pun tidak
lagi berpikir terlalu lama. Ia mengernyit ketakutan dan mulai melompat dengan
tangan kanan yang masih menjulur. Kyle cepat – cepat menangkap tangannya dan
menarik Mandy ke tepi. Mandy pun akhirnya sampai ke tepi. Perasaan lega meluap
di dadanya.
Sekarang giliran Seth melompat. Kyle sudah siap menangkapnya
juga. Seth melakukannya lebih berani dari pada Mandy. Tentu saja.
“ Yeah! ”, seru Seth lega begitu menginjakan kaki di tepi
seberang.
Kyle ikut merasakan kegembiraan mereka. “ Baiklah teman –
teman!. Sekarang rintangan terakhir ”, kata Kyle sambil melihat ke arah seutas
tali yang menggantung berada jauh di atas mereka. Seth dan Mandy ikut menatap
tali dan tebing bebatuan itu.
“ Bagaimana kita bisa meraih talinya? ”, tanya Seth. Ia
mencoba melompat – lompat untuk meraih seutas tali itu, tetapi tidak sampai.
Kyle mencoba berpikir. Ia mengamati ke sekitar mereka. Hanya
ada bebatuan, pasir dan beberapa potong rumput teki yang tumbuh. Setelah
beberapa menit berada dalam keheningan, tiba – tiba saja Kyle menjentikan jari.
Suara jentikan jari Kyle menyadarkan Seth dan Mandy.
“ Ada apa?. Bagaimana?. Kau dapat ide? ”, tanya Seth tidak
sabar.
“ Aku ada ide. Tapi tidak tahu kita bisa melakukannya atau
tidak ”, jawab Kyle datar.
“ Apa itu?. Apapun kita harus bisa melakukannya ”, kata Seth
terdengar memaksa.
“ Apa kau bisa membantuku menggeser batu besar itu sampai
tepat di bawah tali itu? ”, kata Kyle sambil menunjuk sebongkah batu besar yang
terletak di sekitar mereka.
“ Kelihatannya mustahil!. Tapi, aku yakin bisa ”, kata Seth
yang lalu memasang ancang – ancang siap menggeser batu besar itu.
“ Apa sebaiknya aku ikut membantu? ”, tanya Mandy polos.
“ Kau ingin membantu? ”, tanya Kyle dan Mandy pun
mengangguk. “ Kalau begitu bantu kami dengan doa ”.
Seth pun tertawa kecil mendengar percakapan mereka. “
Ayolah, Kyle!. Kita mulai saja! ”, kata Seth bersemangat.
Melihat semangat Seth, Kyle pun ikut bersemangat. Ia
mengikuti Seth, memasang ancang – ancang. Kyle mulai berhitung memberi aba –
aba. Pada hitungan ketiga, mereka bersama – sama menggeser batu besar itu. Kyle
menghitung kembali dan lagi – lagi pada hitungan ketiga, batu pun digeser.
Begitu seterusnya, hingga batu besar itu sampai di tempat yang mereka inginkan.
Kyle dan Seth beristirahat sejenak. Bersama – sama duduk
dengan bersandar pada batu besar itu. Menggeser batu besar itu cukup
melelahkan, apalagi kalau hanya dikerjakan seorang diri. Syukurlah, usaha
mereka tak sia – sia.
“ Sekarang bagaimana? ”, tanya Seth dengan nafas yang masih
terengah – engah.
“ Aku akan naik ke atas batu itu dan membungkuk ”, jawab
Kyle sambil menyeka keringat di dahinya. “ Kau naik ke punggungku dan menangkap
tali itu. Lalu kau naik lebih dulu Seth kemudian Mandy!. Tetapi kau harus
menangkap dia dulu dari atas! ”.
“ Bagaimana denganmu? ”, tanya Seth cemas.
“ Jangan khawatirkan aku!. Aku sudah merasakan berpijak di
atas sana. Kau kan belum. Kau pasti tidak sabar ingin merasakannya juga.
Apalagi adik – adik kalian sudah uring - uringan ”, kata Kyle dengan tersenyum.
Seth mengerutkan kening, kebingungan. Namun akhirnya, ia
tetap balas tersenyum. Senyum yang tergambar dari wajahnya, datar. Jelas
sekali, Kyle tahu kalau Seth memaksa untuk tersenyum.
Mereka tidak mau membuang waktu lagi. Kyle melakukan apa
yang sudah direncanakannya sendiri. Membungkuk di atas batu besar itu dan
membiarkan Seth juga Mandy menginjak punggungnya secara bergantian. Meskipun
seutas tali itu tidak juga berhasil dicapainya, setidaknya Seth hanya cukup
melompat sedikit sekarang. Awalnya ia mencemaskan kondisi Kyle apabila ia
melompat, tetapi Kyle begitu besikeras dan meyakinkan mereka kalau ia baik –
baik saja.
Seth pun menuruti kemauan keras Kyle. Ia melompat pelan di
atas punggung Kyle dan ia berhasil mencapai ujung tali itu. Dalam gerakan
cepat, Seth memanjat tebing bebatuan itu dan berhenti untuk menunggu Mandy.
Kyle jatuh tersungkur, ketika Seth melompat di atasnya. Untunglah,
ia baik – baik saja. Tidak ada cidera sedikitpun. Hanya matanya saja yang
kelilipan karena kemasukkan pasir. Mandy membantu Kyle membersihkan pasir yang
masuk ke matanya dengan meniup mata Kyle pelan - plean. Ketika Kyle sudah
baikan, mereka kembali melanjutkan sisa perjuangan mereka.
Sekarang giliran Mandy. Tubuh Mandy yang lebih ringan terang
saja tidak membuat Kyle kewalahan ketika gadis itu melompat di atas
punggungnya. Mandy melompat pelan dan mencoba meraih tangan Seth yang telah
terulur menunggunya. Seth segera menariknya begitu Mandy berhasil meraih
tangannya.
Secara naluriah, Mandy mengulurkan tangan untuk memegang
kedua kaki Seth. Ia merasa lebih aman jika bertumpu pada kedua kaki Seth.
“ Tidak apa kan, kalau aku berpegangan pada kakimu? ”, tanya
Mandy.
“ Tidak apa. Mungkin sebaiknya kau memanjat ke punggungku
sekarang! ”, pinta Seth.
Mandy pun menurutinya. Ia memanjat dengan cepat dan tanpa
ragu – ragu. Ketika ia telah berhasil meraih pundak Seth, pemuda itu pun mulai
untuk memanjati tebing bebatuan itu.
Kyle masih menunggu di bawah. Ia menunggu sampai ada ruang
baginya untuk memanjat. Ketika ada ruang untuknya, Kyle pun lekas memulai
aksinya memanjat. Ia bertumpu pada setiap bebatuan yang mencuat keluar pada
tebing itu. Bagaikan berada pada olahraga panjat tebing.
Seth yang terus memanjat sambil menggendong Mandy di
punggungnya sempat berhenti ketika ia merasakan ada getaran pada tali yang
digenggamnya. Ia menengok ke arah Kyle yang berada di bawahnya. Secara naluri,
Mandy ikut menengok. Dan mereka pun terkejut begitu mendapati Kyle berhasil memanjat.
Bahkan sekarang jarak mereka tidak terlalu jauh.
“ Kyle! ”, tegur Seth senang. “ Bagaimana bisa? ”, tanyanya
tak percaya.
“ Sudahlah!. Lanjutkan saja memanjat!. Jangan membuang
waktu!. Aku takut tali ini tak akan bertahan lama ”, jawab Kyle.
Seth pun menurutinya. Kali ini ia melakukannya dengan lebih
bersemangat karena tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya.
Di atas tebing, teman – teman mereka sudah menunggu. Seth
dan Mandy dapat melihat wajah – wajah senang mereka, sekali pun wajah senang
Zac yang berusaha ia tutup – tutupi.
Ben bersiap menarik Mandy ke atas agar Seth dapat dengan
mudah memanjat ke atas tebing.
Pada akhirnya,
perjuangan mereka berhasil. Satu – persatu mereka telah tiba di tepi seberang.
Dan perjalanan pun kembali berlanjut.
Artikel Terkait :
0 Comments